Pendidikan Politik Inklusif: Membangun Literasi Digital Generasi Z sebagai Tameng Polarisasi SARA
Dok. Kunjungan Kesultanan Sintang Tahun 2026 Di tengah derasnya arus informasi digital, politik tidak lagi hanya berlangsung di ruang-ruang parlemen, gedung pemerintahan, atau forum kampanye. Politik hadir di layar telepon pintar, dalam percakapan grup keluarga, unggahan media sosial, komentar anonim, hingga video pendek yang beredar tanpa henti. Setiap warga negara, termasuk Generasi Z, kini menjadi penerima sekaligus produsen informasi politik. Dalam situasi ini, pendidikan politik tidak cukup dipahami sebagai pengenalan terhadap lembaga negara, pemilu, atau ideologi kebangsaan. Pendidikan politik perlu diarahkan pada pembentukan kemampuan berpikir kritis, etika komunikasi, serta kesadaran untuk menjaga kehidupan bersama di tengah keragaman. Generasi Z—mereka yang tumbuh dalam lingkungan digital—memiliki posisi strategis dalam proses tersebut. Mereka adalah kelompok yang relatif akrab dengan teknologi, cepat mengakses informasi, dan aktif membentuk opini publik. Namun, kedekata...





.jpg)
